Sering
kita membicarakan ‘cinta’. Kita membicarakan orang yang kita cintai,
tempat-tampat yang kita kagumi, novel yang kita sukai, bahkan es krim yang
digemari. Orang bilang, tiada alasan untuk mencintai. Apa benar demikian? Tapi
faktanya, kita mencintai hal-hal yang memberikan kenyamanan, kesenangan,
jaminan, dukungan, dan hal-hal lainnya yang kita butuhkan. Jika tidak,
bagaimana mungkin dapat muncul rasa cinta.
Tapi
dari sekian banyak hal yang bisa menghadirkan rasa cinta, pernahkan ibu
pertiwi, Indonesia, menjadi salah satu dari yang kita cintai? Jangan
terburu-buru menjawab ‘tidak’ atau ‘iya’. Mungkin setelah membaca tulisan ini,
masing-masing kita dapat memberikan jawaban lebih tepat dan bijak.
Dulu,
sebelum menjadi negara kesatuan, Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan yang
makmur dari Sabang sampai Merauke. Tanah ini kaya, subur, apapun yang ditanam
pasti dapat tumbuh. Kekayaan jugalah yang mengundang bangsa asing datang ke
negeri ini. Ikan berlimpah, kopi, cendana, berbagai rempah menjadi umpan
menggiurkan bangsa barat yang tidak dianugerahi hal yang sama. Berlimpahnya
hasil bumi kita membutakan mereka yang tak puas hanya membeli dari negeri ini.
Bangsa kita yang ramah dan kekeluargaan, dianggap lemah. Maka berpestalah mereka
di atas kebodohan bangsa ini. Negeri yang makmur berubah layaknya penjara.
Beruntung,
kesadaran akan persatuan cepat timbul dan disambut oleh para pemuda saat itu.
Rakyat bersatu mengumpulkan kekuatan. Memang benar adanya, seratus dikali satu
lebih kuat ketimbang sepuluh dikali sepuluh. Bangsa kita tidak sebodoh itu
untuk menyerah. Perjuangan berdarah itupun berpuncak pada kemenangan dan
kemerdekaan (17 Agustus 1945). Perlahan negeri ini pulih dan bangkit.
Memimpin
pertamakalinya sebagai Presiden yakni Soekarno bersama wakilnya Hatta. Satu per
satu langkah negeri ini makin mantap menunjukkan pada dunia bahwa ia telah
merdeka, dan menyuarakan diri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Kelengkapan negara dipenuhi, Dasar negara, hokum, persahabatan dengan
negara lain dikerjakan secara bertahap dan mantap. Betapa indah dan bermakna
perjalanan bangsa ini.
Kita
punya Pancasila sebagai cita-cita luhur. UUD sebagai batas penjaga. Kita negara
kesatuan yang berdemokrasi. Negara agraris juga kaya hasil laut. Beragam
panorama, hutannya adalah paru-paru dunia. Terumbu karang, garis pantai
meliuk-liuk terlukis indah dari cakrawala. Betapa melimpahnya ‘harta’ Indonesia
yang hingga saat ini bahkan nanti, takkan habis dinikmati.
Apa
yang tidak diberikan tanah ini untuk kita? Perlindungan? Pendidikan? Makanan
berlimpah? Bunga-bunga yang indah? Manisnya madu? Indahnya sunset? Indonesia
‘ada’ dengan segala kelengkapannya. Tapi kita terhitung jarang bersyukur dan
malah sering mengabaikan. Alangkah sedih ibu pertiwi ketika cintanya bertepuk
sebelah tangan.
Betapa
tidak! Berapa banyak air yang telah kita minum, ikan yang kita makan, emas yang
kita tambang, pohon yang kita tebang untuk mencukupi hidup sendiri? Semuanya
dari NKRI. Tapi kita malah sering melupakan dan memaki tanah kelahiran ini.
Banyak dari kita justru melupakan lautan darah yang berjuang demi sejahteranya
hari ini. Namun semua itu disia-siakan justru oleh kita sendiri. Proklamasi
memang pencapaian perjuangan, tapi setelah itu mau apa? Bangsa Indonesia
seperti terlena dengan kemerdekaan. Lihatlah ke atas, kehidupan petinggi negeri
bukannya sibuk dengan urusan rakyat malah sibuk dengan kasus sendiri (korupsi,
kolusi, nepotisme). Lihat ke bawah, ‘katanya merdeka’ tapi masih terbelenggu
perbudakan, tiada rumah untuk pulang, bahkan yang dipikirkan adalah ‘besok mau
makan apa?’. Belum lagi pihak asing berkuasa atas pengelolaan kekayaan
Indonesia dan orang kita menjadi budak di negeri sendiri.
Tak
perlu mencari bukti untuk mengatakan Indonesia kaya. Tak perlu pula mencari
bukti untuk mengatakan Indonesia merana. Dua hal yang bertolak belakang namun
nyatanya itu yang kita lihat, dengar, rasa, dan dapati setiap harinya. Sumber
daya alam tak berarti jika tak dikelola oleh sumber daya manusia yang bijak.
Pengetahuan tak berarti jika hanya sekadar disimpan, harus digunakan. Peluang
tak berarti jika tidak dimanfaatkan. Enam puluh delapan tahun Indonesia
merdeka. Selama itu pula dia hadir dengan kebaikannya. Andai dapat berbicara,
mungkin Indonesia akan tersedu menangisi pengkhianatan anak bangsa akan cintanya
hari ini.
Lalu
apa yang harus kita lakukan? Cintai Indonesia! Dari Quraish Shihab pernah
bercerita tentang sebuah perjalanan mencintai. Diawali dengan mengenal. Tidak
mungkin bisa sayang, apalagi cinta pada hal yang tidak dikenal. Mengenal tak
hanya tau nama, tau rupa. Terlebih mengenal Indonesia, dengan sederet suku di
dalamnya, berbagai aspek yang menyusunnya, ideologinya, setiap unsur yang ada
di dalamnya, termasuk masalah yang sedang dihadapinya. Tak paham Pancasila,
bagaimana bisa disebut mengenal? Tak tau sejarahnya? Bukan mengenal namanya.
Apakah kita sudah benar-benar mengenal negeri ini?
Setelah
mengenal, barulah muncul rasa sayang. Bagaimana menyayangi? Itulah yang
selanjutnya disebut proteksi. Kita melindungi, tak ingin dia hilang, disakiti,
dilukai, direbut orang lain. Saat ini banyak isu bergejolak di Indonesia, baik
datang dari luar maupun dalam. Selalu ada ancaman, secara langsung maupun tidak
langsung. Jika kita lengah sebentar saja, Indonesia bisa terpecah, bukan NKRI
lagi. Indonesia bisa kembali terjajah. Apa kita mau, melepaskan negara yang
kita cintai ke pihak lain? Jelas tidak!
Sampailah
pada tahap kesetiaan. Level di mana kita sudah bisa disebut mencintai.
Kesetiaan tak cukup dibuktikan hanya dengan ‘satu’ yang kita cintai. Tapi lebih
dari itu, kita menerima apa yang menjadi kekurangannya. Kita menginginkan yang
terbaik baginya, kemudian tidak menyianyiakannya. Setialah pada negerti ini.
Ingatlah selalu sumpah pemuda dan Pancasila. Memang, saat ini Indonesia belum
di level makmur. Keadaannya terlanjur semraut. Lantas, apakah kita justru hanya
akan berdiam diri, menonton, dan menepuki/mengutuk? Bantulah Indonesia keluar
dari keterpurukan. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki, sebelum dunia
berakhir. Harusnya kita yang hidup dalam kekinian mampu menyembuhkan ibu
pertiwi.
Bicara
sebagai seorang mahasiswa, kita tak hanya beraksi dengan hal abstrak namun
dituntut konkrit. Khususnya sebagai
mahasiswa psikologi. Hingga tahap ini kita disebut sebagai kalangan terpelajar.
Hendaknya ‘terpelajarnya’ kita dapat dipertanggungjawabkan dengan sikap penghormatan
atas dasar dan ideologi negara ini. Biaya pendidikan yang sebagian dari uang
rakyat, harusnya dibalas dengan pengabdian kita terhadap masyarakat. Kita
kuliah, belajar, tak sekadar untuk dapat pekerjaan, tapi mendapatkan ilmu. Ilmu
yang bermanfaat dan berdaya guna bagi kehidupan sendiri maupun orang lain.
Menyelesaikan
masalah dimulai dengan mencari benang merah, akar permasalahan. Salah satu yang
teramati adalah kualitas moral anak bangsa yang luntur dari waktu ke waktu.
Kenapa pejabat korupsi? ‘kejujuran’ tak sampai mendarah daging bagi mereka
sejak dini. Kenapa SDA kita masih dikuasai pihak asing? Orang Indonesia terlalu
ramah dan kekeluargaan menerima orang asing. Kenapa masalah ekonomi, sosial, politik,
pers, hukum, tak berkesudahan mengotori sejarah negeri ini? Karena kosongnya
cinta terhadap negara sendiri. Tak banyak yang benar-benar mengenal Indonesia.
Tak banyak yang benar-benar paham pancasila (bagaimana bisa mengamalkan? peduli
saja tidak).
Hal
ini merupakan refleksi bagi kita semua, termasuk penulis sendiri. Belum banyak
yang bisa penulis persembahkan untuk negeri ini. Salah satu yang penulis tau
pasti adalah, negeri ini butuh ‘cinta’ dari bangsanya. Cinta yang tak sekadar
kumpulan kata dan perlambang, tapi cinta yang penuh perwujudan. Selalu dimulai
dari diri sendiri. Individu, titik terkecil yang paling sulit dikendalikan
dalam kenegaraan. Kesadaran sudah pasti yang pertama. Tapi hanya sadar tidak
cukup. Banyak yang kita pelajari, termasuk nilai-nilai kebaikan dan moral.
Sejak dari ayunan hingga akhir hayat. Kita senantiasa diajarkan pada hal-hal
baik dan benar. Hendaknya menjadi terapan bagi kita semua. Pancasila memiliki nilai-nilai
kehidupan yang amat berharga. Bahkan, dengan menghargai dosen, antri, dan tertib,
merupakan pengamalan ideologi tersebut.
Cara
terbaik menenangkan kegaduhan adalah dengan memulai untuk diam. Begitu juga
untuk Indonesia. Cara terbaik untuk merapikan, menertibkan, menenangkan
Indonesia adalah dengan memulai untuk rapi, tertib, dan tenang. Kita mengenal
hak dan kewajiban, kasih dan damai, soaial dan kekeluargaan. Maka memenuhi
setiap hak dan kewajiban dengan menghormati milik orang lain. Hidup
berdampingan dan menjalankan fungsi masing-masing di dalam masyarakat. Hidup bersih
dan jujur (semua itu telah dipelajari saat di bangku sekolah dasar).
Indonesia
pernah jaya, kemudian terpuruk oleh penjajahan. Indonesia merdeka, kemudian bergejolak.
Dinamika mewarnai sejarah Indonesia. Tapi yang pasti, Indonesia punya kita.
Jutaan penduduk yang menghuni tanah ini juga harus mampu memberikan jutaan
cinta bagi Indonesia. Tumbuhkan tekad : Kita akan mewariskan Indonesia yang
makmur untuk anak cucu kita. Negeri yang aman dan tentram, rumah yang damai
bagi penerus puluhan tahun mendatang. Love
you, Indonesia.
Janganlah menangis Indonesia
Janganlah bersedih Indonesia
Kami berdiri menjagamu pertiwi
Janganlah menangis Indonesia
janganlah bersedih Indonesia
Kami berjajar menjagamu negara
Merembang air matanya persada tercinta
Menitik satu per satu
Tandanya berduka ia sedang lara
Kelapa yang merayu dulu
Tak lagi merdu tak terasa sejuk
Tuhan Yang Maha Kuasa
Hentikan tangisannya
Janganlah bersedih Indonesia
Kami berdiri menjagamu pertiwi
Janganlah menangis Indonesia
janganlah bersedih Indonesia
Kami berjajar menjagamu negara
Merembang air matanya persada tercinta
Menitik satu per satu
Tandanya berduka ia sedang lara
Kelapa yang merayu dulu
Tak lagi merdu tak terasa sejuk
Tuhan Yang Maha Kuasa
Hentikan tangisannya






