Minggu, 22 Desember 2013

Tentang Cinta dan Indonesia




Sering kita membicarakan ‘cinta’. Kita membicarakan orang yang kita cintai, tempat-tampat yang kita kagumi, novel yang kita sukai, bahkan es krim yang digemari. Orang bilang, tiada alasan untuk mencintai. Apa benar demikian? Tapi faktanya, kita mencintai hal-hal yang memberikan kenyamanan, kesenangan, jaminan, dukungan, dan hal-hal lainnya yang kita butuhkan. Jika tidak, bagaimana mungkin dapat muncul rasa cinta.

Tapi dari sekian banyak hal yang bisa menghadirkan rasa cinta, pernahkan ibu pertiwi, Indonesia, menjadi salah satu dari yang kita cintai? Jangan terburu-buru menjawab ‘tidak’ atau ‘iya’. Mungkin setelah membaca tulisan ini, masing-masing kita dapat memberikan jawaban lebih tepat dan bijak.
 
Dulu, sebelum menjadi negara kesatuan, Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan yang makmur dari Sabang sampai Merauke. Tanah ini kaya, subur, apapun yang ditanam pasti dapat tumbuh. Kekayaan jugalah yang mengundang bangsa asing datang ke negeri ini. Ikan berlimpah, kopi, cendana, berbagai rempah menjadi umpan menggiurkan bangsa barat yang tidak dianugerahi hal yang sama. Berlimpahnya hasil bumi kita membutakan mereka yang tak puas hanya membeli dari negeri ini. Bangsa kita yang ramah dan kekeluargaan, dianggap lemah. Maka berpestalah mereka di atas kebodohan bangsa ini. Negeri yang makmur berubah layaknya penjara.

Beruntung, kesadaran akan persatuan cepat timbul dan disambut oleh para pemuda saat itu. Rakyat bersatu mengumpulkan kekuatan. Memang benar adanya, seratus dikali satu lebih kuat ketimbang sepuluh dikali sepuluh. Bangsa kita tidak sebodoh itu untuk menyerah. Perjuangan berdarah itupun berpuncak pada kemenangan dan kemerdekaan (17 Agustus 1945). Perlahan negeri ini pulih dan bangkit.

Memimpin pertamakalinya sebagai Presiden yakni Soekarno bersama wakilnya Hatta. Satu per satu langkah negeri ini makin mantap menunjukkan pada dunia bahwa ia telah merdeka, dan menyuarakan diri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kelengkapan negara dipenuhi, Dasar negara, hokum, persahabatan dengan negara lain dikerjakan secara bertahap dan mantap. Betapa indah dan bermakna perjalanan bangsa ini. 
 
Kita punya Pancasila sebagai cita-cita luhur. UUD sebagai batas penjaga. Kita negara kesatuan yang berdemokrasi. Negara agraris juga kaya hasil laut. Beragam panorama, hutannya adalah paru-paru dunia. Terumbu karang, garis pantai meliuk-liuk terlukis indah dari cakrawala. Betapa melimpahnya ‘harta’ Indonesia yang hingga saat ini bahkan nanti, takkan habis dinikmati.

Apa yang tidak diberikan tanah ini untuk kita? Perlindungan? Pendidikan? Makanan berlimpah? Bunga-bunga yang indah? Manisnya madu? Indahnya sunset? Indonesia ‘ada’ dengan segala kelengkapannya. Tapi kita terhitung jarang bersyukur dan malah sering mengabaikan. Alangkah sedih ibu pertiwi ketika cintanya bertepuk sebelah tangan.

Betapa tidak! Berapa banyak air yang telah kita minum, ikan yang kita makan, emas yang kita tambang, pohon yang kita tebang untuk mencukupi hidup sendiri? Semuanya dari NKRI. Tapi kita malah sering melupakan dan memaki tanah kelahiran ini. Banyak dari kita justru melupakan lautan darah yang berjuang demi sejahteranya hari ini. Namun semua itu disia-siakan justru oleh kita sendiri. Proklamasi memang pencapaian perjuangan, tapi setelah itu mau apa? Bangsa Indonesia seperti terlena dengan kemerdekaan. Lihatlah ke atas, kehidupan petinggi negeri bukannya sibuk dengan urusan rakyat malah sibuk dengan kasus sendiri (korupsi, kolusi, nepotisme). Lihat ke bawah, ‘katanya merdeka’ tapi masih terbelenggu perbudakan, tiada rumah untuk pulang, bahkan yang dipikirkan adalah ‘besok mau makan apa?’. Belum lagi pihak asing berkuasa atas pengelolaan kekayaan Indonesia dan orang kita menjadi budak di negeri sendiri.

Tak perlu mencari bukti untuk mengatakan Indonesia kaya. Tak perlu pula mencari bukti untuk mengatakan Indonesia merana. Dua hal yang bertolak belakang namun nyatanya itu yang kita lihat, dengar, rasa, dan dapati setiap harinya. Sumber daya alam tak berarti jika tak dikelola oleh sumber daya manusia yang bijak. Pengetahuan tak berarti jika hanya sekadar disimpan, harus digunakan. Peluang tak berarti jika tidak dimanfaatkan. Enam puluh delapan tahun Indonesia merdeka. Selama itu pula dia hadir dengan kebaikannya. Andai dapat berbicara, mungkin Indonesia akan tersedu menangisi pengkhianatan anak bangsa akan cintanya hari ini. 
 
Lalu apa yang harus kita lakukan? Cintai Indonesia! Dari Quraish Shihab pernah bercerita tentang sebuah perjalanan mencintai. Diawali dengan mengenal. Tidak mungkin bisa sayang, apalagi cinta pada hal yang tidak dikenal. Mengenal tak hanya tau nama, tau rupa. Terlebih mengenal Indonesia, dengan sederet suku di dalamnya, berbagai aspek yang menyusunnya, ideologinya, setiap unsur yang ada di dalamnya, termasuk masalah yang sedang dihadapinya. Tak paham Pancasila, bagaimana bisa disebut mengenal? Tak tau sejarahnya? Bukan mengenal namanya. Apakah kita sudah benar-benar mengenal negeri ini?

Setelah mengenal, barulah muncul rasa sayang. Bagaimana menyayangi? Itulah yang selanjutnya disebut proteksi. Kita melindungi, tak ingin dia hilang, disakiti, dilukai, direbut orang lain. Saat ini banyak isu bergejolak di Indonesia, baik datang dari luar maupun dalam. Selalu ada ancaman, secara langsung maupun tidak langsung. Jika kita lengah sebentar saja, Indonesia bisa terpecah, bukan NKRI lagi. Indonesia bisa kembali terjajah. Apa kita mau, melepaskan negara yang kita cintai ke pihak lain? Jelas tidak!

Sampailah pada tahap kesetiaan. Level di mana kita sudah bisa disebut mencintai. Kesetiaan tak cukup dibuktikan hanya dengan ‘satu’ yang kita cintai. Tapi lebih dari itu, kita menerima apa yang menjadi kekurangannya. Kita menginginkan yang terbaik baginya, kemudian tidak menyianyiakannya. Setialah pada negerti ini. Ingatlah selalu sumpah pemuda dan Pancasila. Memang, saat ini Indonesia belum di level makmur. Keadaannya terlanjur semraut. Lantas, apakah kita justru hanya akan berdiam diri, menonton, dan menepuki/mengutuk? Bantulah Indonesia keluar dari keterpurukan. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki, sebelum dunia berakhir. Harusnya kita yang hidup dalam kekinian mampu menyembuhkan ibu pertiwi.

Bicara sebagai seorang mahasiswa, kita tak hanya beraksi dengan hal abstrak namun dituntut konkrit.  Khususnya sebagai mahasiswa psikologi. Hingga tahap ini kita disebut sebagai kalangan terpelajar. Hendaknya ‘terpelajarnya’ kita dapat dipertanggungjawabkan dengan sikap penghormatan atas dasar dan ideologi negara ini. Biaya pendidikan yang sebagian dari uang rakyat, harusnya dibalas dengan pengabdian kita terhadap masyarakat. Kita kuliah, belajar, tak sekadar untuk dapat pekerjaan, tapi mendapatkan ilmu. Ilmu yang bermanfaat dan berdaya guna bagi kehidupan sendiri maupun orang lain. 

Menyelesaikan masalah dimulai dengan mencari benang merah, akar permasalahan. Salah satu yang teramati adalah kualitas moral anak bangsa yang luntur dari waktu ke waktu. Kenapa pejabat korupsi? ‘kejujuran’ tak sampai mendarah daging bagi mereka sejak dini. Kenapa SDA kita masih dikuasai pihak asing? Orang Indonesia terlalu ramah dan kekeluargaan menerima orang asing. Kenapa masalah ekonomi, sosial, politik, pers, hukum, tak berkesudahan mengotori sejarah negeri ini? Karena kosongnya cinta terhadap negara sendiri. Tak banyak yang benar-benar mengenal Indonesia. Tak banyak yang benar-benar paham pancasila (bagaimana bisa mengamalkan? peduli saja tidak).

Hal ini merupakan refleksi bagi kita semua, termasuk penulis sendiri. Belum banyak yang bisa penulis persembahkan untuk negeri ini. Salah satu yang penulis tau pasti adalah, negeri ini butuh ‘cinta’ dari bangsanya. Cinta yang tak sekadar kumpulan kata dan perlambang, tapi cinta yang penuh perwujudan. Selalu dimulai dari diri sendiri. Individu, titik terkecil yang paling sulit dikendalikan dalam kenegaraan. Kesadaran sudah pasti yang pertama. Tapi hanya sadar tidak cukup. Banyak yang kita pelajari, termasuk nilai-nilai kebaikan dan moral. Sejak dari ayunan hingga akhir hayat. Kita senantiasa diajarkan pada hal-hal baik dan benar. Hendaknya menjadi terapan bagi kita semua. Pancasila memiliki nilai-nilai kehidupan yang amat berharga. Bahkan, dengan menghargai dosen, antri, dan tertib, merupakan pengamalan ideologi tersebut.

Cara terbaik menenangkan kegaduhan adalah dengan memulai untuk diam. Begitu juga untuk Indonesia. Cara terbaik untuk merapikan, menertibkan, menenangkan Indonesia adalah dengan memulai untuk rapi, tertib, dan tenang. Kita mengenal hak dan kewajiban, kasih dan damai, soaial dan kekeluargaan. Maka memenuhi setiap hak dan kewajiban dengan menghormati milik orang lain. Hidup berdampingan dan menjalankan fungsi masing-masing di dalam masyarakat. Hidup bersih dan jujur (semua itu telah dipelajari saat di bangku sekolah dasar).

Indonesia pernah jaya, kemudian terpuruk oleh penjajahan. Indonesia merdeka, kemudian bergejolak. Dinamika mewarnai sejarah Indonesia. Tapi yang pasti, Indonesia punya kita. Jutaan penduduk yang menghuni tanah ini juga harus mampu memberikan jutaan cinta bagi Indonesia. Tumbuhkan tekad : Kita akan mewariskan Indonesia yang makmur untuk anak cucu kita. Negeri yang aman dan tentram, rumah yang damai bagi penerus puluhan tahun mendatang. Love you, Indonesia.

Janganlah menangis Indonesia
Janganlah bersedih Indonesia
Kami berdiri menjagamu pertiwi

Janganlah menangis Indonesia
janganlah bersedih Indonesia
Kami berjajar menjagamu negara

Merembang air matanya persada tercinta
Menitik satu per satu
Tandanya berduka ia sedang lara
Kelapa yang merayu dulu
Tak lagi merdu tak terasa sejuk

Tuhan Yang Maha Kuasa
Hentikan tangisannya

Friendship never end~






Kamis, 05 Desember 2013

just watched '99 Cahaya di Langit Eropa'


www.hanumrais.com/p/sinopsis-99-cahaya.html

I've watched movie. I get many things then. I see good people, beautiful places, interesting moment, imagination, and so on. I hear varian languages, nice soundtracks, wise quotes, etc... I learn,. I feel,. So much adventages that I got by watched them.

I feel like I had an adveture. There's an emotional effect for me and it hard to push away. Well,,I do not really try hard to let them go. Even, I just enjoyed that feeling. It's always bring a new poit of view for me. Refresh my mind and bring me beyond imagination. Make me more emphaty and more respectable in everything that I face up.

Thanks Allah SWT... Alhamdulillah :)

Rabu, 04 Desember 2013

Intro ^^


Hi!! this is my first post... I've created many blogs, but... You know, I left them in emptyness. For this one, I won't do the same. Hohho I wanna share many things that I know, I think, I feel, I do, I love, and so on. I realized that writing is really important. Even when we don't know what to write, just write it...

Have a nice 'adventure' :D